Kita mengetahui bahwa para laba-laba adalah “insinyur-insinyur” hebat pembuat jaring, dengan keajaiban arsitektur dan rekayasanya. Mereka juga merupakan mesin-mesin pembunuh yang memiliki kemampuan untuk: membuat perangkap, membangun sarang di bawah air, memburu mangsa dengan lasso, melepaskan racun, melompat ratusan kali lebih tinggi dari tubuhnya sendiri, membuat benang-benang yang lebih kuat daripada baja dalam tubuhnya sendiri, menyamarkan diri selama berburu. Kita akan menjumpai keajaiban-keajaiban lainnya jika kita mengamati struktur tubuhnya serta sifat-sifat yang dimilikinya.

Banyak keistimewaan pada semua tubuh laba-laba yang menjadi bukti bahwa mereka itu diciptakan, antara lain: sisir-sisir yang berfungsi seperti pabrik tenun, laboratorium-laboratorium penghasil bahan kimia, organ-organ pencernaan yang sangat ampuh, indra yang mampu merasakan getaran yang sangat kecil, taring yang kuat untuk menyuntikan racun, dan lain-lain. Melihat semua sifat ini, laba-laba menjadi pengingkar terhadap Teori Evolusi dan sekali lagi meruntuhkan hipotesis menggelikan yang bernama kejadian kebetulan.

Namun ada satu yang hampir terlupakan dari bagian perjalanan hidup seekor laba-laba, yaitu ketika ia menjadi Ibu dari sekian banyak anak-anaknya. Ia merawat bayi-bayi kecilnya dengan kasih sayang yang luar biasa, yang mungkin saja tidak dimiliki oleh induk-induk lain. Pada saat-saat tertentu, laba-laba membawa anaknya yang baru lahir di punggungnya. Dengan cara ini ia dapat memenuhi kebutuhannya sekaligus melindungi anak-anaknya dengan lebih baik. Sebagai mesin pembunuh berdarah dingin, laba-laba ini pada saat yang sama sangat mengasihi keturunannya. Ia bisa mengeluarkan semacam kantong telur untuk makanan bayi-bayinya dan kantung telur itu akan habis dimakan selama 3 hari. Bayi laba-laba mempunyai semacam cangkang yang keras yang harus dilepaskan bila ia ingin cepat tumbuh menjadi laba-laba dewasa. Dan ketika pertumbuhan bayi laba-laba itu mulai meningkat, sepertinya ia telah benar-benar siap untuk menjadi pemangsa, mesin pembunuh berdarah dingin yang sangat mematikan. Meskipun begitu, seekor bayi laba-laba yang belum berpengalaman dalam berburu nampaknya mesti harus belajar banyak dari senior-seniornya bahkan dari induknya sendiri. Dan pada saat-saat seperti itulah, dengan kasih sayang demi kelangsungan hidup anak-anaknya, ia pun rela menjadi mangsa yang pertama bagi bayi-bayinya yang kini sudah menjadi pemangsa yang buas. Ia masuk kedalam kerumunan anak-anaknya dan sengaja menaikkan anak-anak itu ke atas punggungnya, membiarkan tubuhnya menjadi santapan pertama bagi si pemangsa buas yang tak lain adalah keturunannya sendiri.

Laba-laba memang benar-benar Sang Predator sekaligus Ibu yang sangat bijaksana. Demi kelangsungan keturunannya ia pun rela mengorbankan dirinya menjadi santapan bagi anak-anak tercinta.