Sunyi…..Senyap…..Pekat…..!, itulah gambaran suasana saat malam menjelang, tepat ketika rembulan sedikit naik ke atas. Udara yang dingin selalu menjadi teman terdekat bersama nyanyian-nyanyian alam. Gelap….hanya kerlip bintang di angkasa raya berbaur dengan gumpalan awan hitam. Tenang……Damai….!, hanya itu yang aku rasakan tatkala kembali bertemu dengan wajah sang Malam. Tak ada beban yang menghimpit, tak ada gundah yang mencengkram. Hati dan pikiran benar-benar terbuka menghadapi semua Segala tetek bengek kegetiran hidup seperti lenyap di telan sunyi yang teramat tenang. Emosi dan Hasrat duniawi seakan-akan redup bersama keheningan.
Buat Sang Malam……
Jangan pernah kau beranjak dari waktumu, biarkan damai itu terus mengalir dalam jiwaku. Teruslah temani aku manghadapi semua kegetiran ini. Padamu aku bercerita….padamu jua aku tumpahkan segalanya. Tentang badai yang menghantam, tentang harapan yang terjungkal…tentang rasa yang tak mampu ku ungkap….serta lidah yang kelu tak pernah bisa menjawab.
Setiap bertemu denganmu lah kedamaian itu bisa kurasakan. Setiap bertemu denganmu jua ketenangan itu datang mengusir semua Ambisi-ambisi keparat…!
Namun aku cukup tau dan cukup sadar diri. Lambat laun kau juga pasti akan pergi, lalu datang, lalu pergi lagi. Tapi izinkahlah sekali saja kau temani aku saat ini, hingga mimpi-mimpi itu datang menjemput dan mambawaku terbang ke dunia antah berantah. Aahh…!

3 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
Mei 1, 2007 pada 3:59 am
renggo
mas…boleh juga puisinya..saya pesen satu dong buat oleh2 dirumah…he..he…hee
Mei 10, 2007 pada 10:32 pm
medon's log
Buset! “No Comment” mode ON
Mei 29, 2007 pada 2:02 pm
meiria
woooowww!!!!
ternyata!
jiwa senimu LUAR BIASA!!
cool banget.
ga nyangka banget. sampe sampe aku ternganga n..speechless..
jadi ngebayangin..